Sabtu, Februari 4, 2023
BerandaBandar LampungBambang pemuda Pemerhati Budaya Angkat Bicara

Bambang pemuda Pemerhati Budaya Angkat Bicara

(ProgresifNews.id) Bandar Lampung—Menanggapi apa yang disampaikan oleh Mirza yang merupakan seorang kepala desa atau Peratin di Pekon Negara Batin Tanggamus, terkait dengan penyampaian Dang Ike sapaan akrab Irjen Pol (Purn) Ike Edwin, SH, Sik, MH, MM, Bambang seorang tokoh pemuda pemerhati budaya angkat bicara.

Bambang mengapresiasi apa yang disampaikan oleh saudara Mirza, atas apa yang disampaikan terkait dengan kegiatan kunjungan anjau silau Saibatin Paksi Buay Belunguh Suttan Junjungan Sakti Yang Dipertuan Sekala Brak ke-27 di Desa Umbul Buah Kagungan Kab. Tanggamus, pada kegiatan anjau silau tersebut Saibatin Kepaksian Buay Belunguh didampingi oleh Dang Ike yang bergelar adat Gusti Batin Raja Mangkunegara.

Dalam penyampaian dari saudara mirza ada beberapa point yang harus saya tanggapi ujar bambang, memang setiap perjalanan anjau silau dari Saibatin Paksi Buay Belunguh tidak selalu di publikasikan dimedia, karena rasa persaudaraan itu tumbuh dari hati yang kemudian diwujudkan dalam perbuatan sehingga kegiatan silaturahmi semacam itu bukanlah menjadi ajang pencitraan, Suttan Junjungan Sakti yang Dipertuan Sekala Brak ke 27 sangat sering bertandang untuk menengok saudara-saudaranya jurai umpu belunguh baik yang ada di Lampung Barat, pesisir barat, suoh, tanggamus, way Ratai dan lain-lain, jadi sangat keliru apabila beliau dikatakan sudah sekian lama tidak menjalin hubungan dg kerabatnya yang ada ditanggamus.

Bambang justru mempertanyakan kapasitas dari saudara mirza yang mengatakan bahwa dirinya merupakan seorang Wakil Panglima Perang kerajaan, karena saat ini bukan jaman perang, adat ini bukan kedaulatannya yg ditonjolkan akan tetapi tradisinya yang mana tradisi tersebut tidak bertentangan dengan norma hukum, maupun norma agama sehingga tradisi tersebut bisa menjadi pedoman dalam menjalankan pranata sosial ditengah masyarakat.

Tradisi itu adalah suatu kebiasaan jaman dahulu kala yang secara istiqomah dijalankan sampai dengan saat ini dan menjadi dasar kehidupan dalam masyarakat yang tidak bertentangan dengan aturan negara maupun aturan agama sehingga dalam era globalisasi ini tetap berlaku dan tidak tergerus dengan perubahan-perubahan zaman.

Sedangkan sesuatu yang dibuat-buat walaupun itu menyerupai adat tapi bukan tradisi yang berlaku sejak zaman dahulu itu berarti kreasi, memang mirip dengan adat tapi itu bukan adat, hanya kreasi-kreasi yang nanti juga akan hilang ditelan zaman tambah bambang.

Masyarakat adat sendiri mempertanyakan apakah didalam adat lampung itu ada sebutan panglima perang, atau wakil panglima perang mungkin juga ada sekretaris panglima perang dan bendahara panglima perang, karena dizaman dahulu tidak ada, kapankah itu dibentuk? Berarti itukan hanya sekedar angan-angan, ini merupakan sebutan-sebutan baru yang saya katakan tadi sebagai kreasi, meskipun agak mirip dengan adat tapi ini kan bukan adat bukan tradisi.

Selaku masyarakat yang hidup dalam payung NKRI sebagai negara demokrasi yang besar, bambang juga tidak melarang siapapun orang yang ingin menyanggah pernyataan dari Dang Ike, silahkan tapi tentunya hal tersebut harus disanggah secara akademis, apalagi kita dikit-dikit menyatakan berdasarkan tambo, tambo yang mana? Coba buka dipublik, tambonya ini, bunyinya ini dalam bahasa lampung, terjemahannya begini, dan tambo ini berusia begini sesuai hasil uji lab dan uji carbon, jadi bukan menyanggah dengan opini, menyanggah dg katanya-katanya tapi betul-betul disanggah secara akademi, saya rasa dang ike tidak menutup jalur komunikasi terkait dengan permasalahan yang disampaikan oleh saudara mirza, apalagi dang ike itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari paksi pak sekala brak tutup bambang. (Tim)

BACA JUGA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Terkini